Rabu, 11 September 2013

perih yang kembali kualami

 Setelah stengah tahun kira-kira lamanya aku belajar melupakan kisah asmarahku yang sulit aku dapatkan obatnya,,yang cukup banyak menguras waktuku untuk belajar dan mencari cara  melupakan sang kekasih yang kini cuma hanya bisa di katakan sebagai mantanku.. walaupun hati kecilku ini tak bisah bohong ..masih menyimpan penuh harap tuk bisah mengulang kembali kisah manisku bersama dia,tapi apa boleh buat takdirku tak bisa di ubah lagi.aku hanya bisah berpasrah kepada sang khalik..aku hanya bisah mengangkat kedua tanganku berdoa tuk berharap kepda sang khalik agar kelak aku bisah mendapatkan yang lebih baik darinya..
  Siang itu selepas aku membersihkan badanku dari kotoran tanah karna kebetulan aku habis dari membantu ayahku membajak sawah..aku kembali di perintahkan oleh ibuku untuk mengunjungi salah satu rumah kemanakanku yang terletak tidak jauh dari rumahku untuk mengurusi suatu kepentingan...
 Setelah aku mengenakan pakain yang cukup layak di pakai oleh orang sepertiku..aku pun langsung beranjak pergi menuju rumah kemanakanku itu..setelah aku sampai aku pun langsung menemui keponakanku itu dan membicarakan alasan saya mengunjungi     rumahnya..setelah selesai akupun berpamitan dengan keponakanku itu..setelah itu akupun melangkahkan kakiku untuk menurungi tanggah rumahnya karna kebetulan rumahnya adalah rumah panggung,,sebelum kakiku sampai di tingkat  tangga paling terakhir tiba-tiba saja secara tidak sengaja kakiku terpeleset dan aku pun terjatuh di tanah "untungnya tidak ada orang yang ngelihat" ujarku dalam hati..tp setelah aku membersihkan tanah bekas aku jatuh aku membalikan badanku ke arah belakang tiba-tiba saja aku di kejutkan dengan seorang wanita berjilbab putih yang memiliki mata agak sipit dan memiliki dua lesung pipih di bagian kanan dan kiri pipinya yang sudah berdiri tepat di depanku dan langsung membantuku membersihkan tanah bekas aku jatuh tadi .."mas ko bisa jatuh sih" kata wanita  berlesung pipi itu..
"Anu neng..kaki mas tdi terpelesek" jawabku kepada wanita itu...
"Ohh lain kali hati-hati yah mas...!"
"Oh iyya neng makasih..."
Setelah itu wanita itu pun permisi untuk  beranjak pergi meninggalkan ku..
Akupun beranjak pergi meninggalkan rumah kemanakanku itu...
Ke esekon harinya aku kembali jalan-jalan kerumah kemanakanku itu..tpi dengan tujuan aku cuma ingin jalan-Jalan doang tanpa tujuan pasti..
Setelah kira-kira stengah jam lamanya aku di rumah kemanakanku itu..kembali datanglah seorang wanita berkerudung hitam memakai sendal jepit putih dan memiliki dua lesung pipih dan memiliki mata yang agak sipit...yaah wanita kemarin yang sempat menolongku ..langsung saja aku menemuinya dan sekaligus berterimah kasih kepadanya.
"Makasih yah udah nolongin aku kemarin jadi nggk enak..hehe" kataku pada wanita itu
"Waahh..biasa aja mas..kan itu sudah kewajiban kita sebagai umat muslim" jawab wanita itu kepadaku..
Setelah 10 menit kira-kira lamanya aku ngobrol dengan wanita itu..sekarang aku sudah tau nama dia,tempat tinggal dia,skolah dia, bahkan no handphonnya pun sekarang aku sudah tau...
Ternyata dia adalah salah satu santri di pondok pesantren di samping rumah kemanakanku....
Sejak itu kami mulai akrab..tak jarang kami smsan dan telponan bahkan tak jarang aku pergi menemuinya di rumah kemanakanku itu...dia pun kelihatan begitu senang ketika bertemu denganku..hari-hari kami sering jalani bersama bahkan tak jarang juga dia sering curhat  denganku dikala dia sedih dan dilema dalam menghadapi hidup ini..
Seiring berjalannya waktu aku pun merasa semakin dekat dengannya..
Tibalah saatnya aku berpikir mungkin tuhan selama ini sudah bosan mendengarkan keluhanku..atau kasihan melihatku karna menjalani kehidupan ini tanpa seorang kekasih yang menemaniku menjalani warna-warni hidupku..mungkin ini lah jawaban tuhan atas segala pertanyaan-pertanyaanku selama ini..tuhan mungkin mengirimkan  seorang wanita berlesung pipi ini yang sering di sapa dengan sebutan fitri untuk menemaniku menjalani hidup ini..
 Sore itu kuputuskan untuk mengungkapkan perasaanku dari lubuk hati yang paling dalam bahwa aku sangat mencintai dan menyayanginya sekalian aku ingin dia menjadi pacarku untuk terakhir kalinya untuk menutupi semua luka yang ku alami selama ini..
 Saat itu juga aku ingin pergi menemuinya tapi teringat kalau hari ini dia kembali kekampunya jadi aku memutuskan untuk menelponnya saja..setelah aku ingin mencari nama fitri di kontak handphonku...tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara handphonku berdering yang beratas nama fitri.."mungkin tuhan memudahkanku menjalani hubungan bersama dia" ujarku senang dalam hati..
Tanpa berpikir lama lagi Langsung saja aku mengangkat telpon dari fitri..
"Halo kk...ini aku fitri..
"Iyyaa dek...knp..?? Jawabku santai
"Hari ini aku seneng bwanget deh kk..
"Waah..seneng knp dek..?? Membuatku menunggu dan penasaran
" anuu kk skrg aku sudah jadian ma cowo yang slama ini aku sukai..pas tadi siang dia menemuiku dan mengungkapkan perasaannya kepadaku ..aku seneng bwanget deh kk..
" waahh...bgus dong dek.." jawabku dengan nada rendah..
Tanpa berbicara lama aku langsung mematikan telphon tanpa permisi terlebih dahulu..
  Ohh tuhan...kenapa ini bisah terjadi..luka yang selama ini aku alamai tdinya aku kira akan berganti dengn sejuta kebhagiaan tpi malah berganti dengan luka yang sangat perih..aku tak percaya kenapa ini bisah terjadi ..aku tak percaya pada diriku sendiri..aku kira ini adalah awal dari cerita kebahagiaanku tapi malah cerita lukaku yang berkelanjutan.. aku salah dengan harapanku..aku salah dengan ke inginanku bersama  fitri..aku kira fitri juga merasakan perasaan yang sama padaku tapi nyatanya tidak..dia mungkin menganggapku hanya sebagai kakanya atau kah kurang dari pada itu..
Saat itu sulit rasanya aku menghapus kenanganku bersama fitri..yang selama ini kami sering bersama ..berbagi cerita..berbagi kebahagiaan..tapi kenapa harus berkhir dengan luka yang sangat periihh..apakah dia tidak tau kalau aku ini sangat mencintanya..apakah dia tidak tau kalau aku ini sangat menyayanginya...hingga membuatku lukaa seperti ini..
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar